Barangkali yang anda maksud dengan kalimat di sini adalah kalimat tauhid yaitu
dua kalimat syahadat :
Laillaha Ilallahu Muhamad Rosulullah
Dan ini pulalah yang dimaksud oleh si khatib.
Dua kalimat syahadat mempunyai beberapa syarat, yaitu :
Pertama : Ilmu.
Yaitu ilmu tentang maknanya dan maksud yang terkandung di dalamnya berupa
nafi' (menolak sesembahan lain-red) dan itsbat (menetapkan satu-satunya sesembahan
yaitu Allah.-red), sehingga terhapuslah ketidaktahuan tentang hal itu. Allah
Ta'ala berfirman:
"Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang sebenarnya kecuali Allah."
(Q.S. Muhammad: 19)
Dan firman-Nya pada ayat yang lain:
"
Kecuali orang yang menyaksikan al haq
.."
yaitu menyaksikan Laillaha Ilallahu dan mereka meyakini dengan hati-hati
mereka makna dari kalimat yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka. Dan di dalam
shahih Bukhari sebuah hadits dari Utsman Bin Affan Radhiyallahu 'Anhu dia
berkata: Telah berkata Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam :
"Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui bahwa tiada sesembahan
yang sebenarnya kecuali Allah maka dia akan masuk surga."
Kedua : Yakin.
Yaitu keyakinan yang bisa menghapuskan keraguan bahwa orang itu mengucapkan
kalimat itu dengan keyakinan terhadap isi kandungannya dengan keyakinan yang
pasti, karena iman tidaklah cukup kecuali dengan ilmu yakin dan bukan dengan
ilmu dhon (sangkaan), apalagi kalau dimasuki keraguan.
Allah berfirman:
"Orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan
jiwa di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (Q.S.
Al Hujarat :10)
Dalam ayat ini Allah mensyaratkan tentang keimanan mereka kepada Allah dan
Rasul-Nya bahwa hal itu harus disertai sikap tidak ragu. Adapun orang yang
ragu mereka itu adalah termasuk golongan munafik. Na'udzubillah.
Di dalam shahih Bukhari ada hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu dia
berkata : Telah berkata Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :
" Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan tang sebenarnya kecuali
Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu
dengan Allah dengan membawa dua kalimat itu tanpa keraguan tentang keduanya
kecuali Alah akan mewajibkan surga untuknya."
Ketiga : Menerima.(Qabul)
Yaitu menerima isi kandungan yang terdapat di dalam kalimat ini dengan hati
dan lisannya. Allah Ta'ala berfirman:
"
Kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas, bagi mereka ada rizki
yang telah diketahui, yaitu buah-buahan sedangkan mereka dimulyakan di surga
yang penuh dengan kenikmatan." (Q.S. Ash Shaffat :40-43)
Dan Allah berfirman:
"Barangsiapa yang datang dengan membawa kebaikan maka dia akan memperoleh
balasan yang lebih baik daripadanya dan mereka pada hari itu aman dari ketakutan."
(Q.S. An Naml :89)
Di dalam shahih Bukhari ada sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu
'Anhu , dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam , bahwa beliau bersabda:
"Perumpamaan hidayah dan ilmu yang Allah telah mengutusku dengan
membawa keduanya adalah seperti hujan yang banyak yang menimpa bumi, maka
di antara bumi itu ada yang gembur yang menyerap air, lalu dia menumbuhkan
banyak rumput dan Ilalang. Di antara bumi itu ada pula yang gersang yang menahan
air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia dengan air itu sehingga mereka
bisa minum dan menanam. Airpun menimpa jenis tanah yang lain yaitu lembah
yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput. Maka demikian
pula perumpamaan orang yang memahami dienullah dan manfaat yang Allah berikan
kepadanya, lalu dia mengetahui dan mengamalkannya, dan perumpamaan orang yang
tidak mau mengangkat kepalanya terhadap hal itu dan tidak menerima hidayah
dari Allah yang Allah telah mengutus aku dengannya."
Keempat : Tunduk/patuh (Al-Ingqiyad)
Artinya tunduk kepada isi kandungan yang ditunjukkan oleh kalimat itu yang
mampu menghapuskan sikap yang sebaliknya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan taubatlah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah (tunduk)
kepada-Nya." (Q.S. Az Zumar: 54)
Dan firman-Nya pada ayat yang lain:
"Dan siapakah yang lebih baik dari pada orang-orang yang berserah
diri kepada Allah dan dia berbuat kebaikan." (Q.S. An Nisa: 25)
Dan pada ayat yang lainnya lagi:
"Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dan dia berbuat
kebaikan maka dia telah berpegang teguh kepada tali yang kuat." (Q.S.
Luqman: 22)
Artinya telah berpegang teguh kepada Lailaha Ilallah. Dan kepada Allahlah
kembalinya akibat dari segala urusan. Dan makna berserah diri artinya tunduk
dan makna berbuat kebaikan artinya tauhid.
Kelima : Benar. (As-Shidq)
Yaitu benar tentang ucapannya yang menghapuskan dusta dalam hal itu. Maksudnya
dia mengatakan kalimat itu benar-benar dari hatinya yang menunjukkan keselarasan
hati dan lisan.
Allah berfirman:
"Alif Laam Miim. Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan
berkata: 'Kami telah beriman.' Padahal mereka belum diuji? Dan sesungguhnya
Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka dengan ujian itu Allah
benar-benar mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui pula orang-orang
yang dusta." (Q.S. Al-Ankabut : 1-3)
Dan di dalam shahih Bukhari dan Muslim ada sebuah hadits yang diterima dari
Muadz Bin Jabal Radhiyallahu 'Anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam beliau
barkata:
"Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dengan sebenarnya
dari hatinya kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya."
Keenam : Ikhlas (Al-Ikhlas)
Artinya membersihkan amal dengan niat yang benar dari semua noda syirik.
Allah berfirman:
"Ingatlah kepunyaan Allahlah agama yang bersih." (Q.S. Az-Zumar:
3)
Dan firman-Nya:
"Dan tidaklah mereka diperintahnya kecuali untuk beribadah kepada
Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya secara lurus." (Q.S. Al
Bayyinah : 5)
Dan di dalam shahih Bukhari ada sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu
'anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam :
"Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah orang yang
mengatakan Laaillaaha Ilallaah secara ikhlas dari hati dan jiwanya."
Ketujuh : Cinta. (Al-Mahabah)
Yaitu mencintai kalimat ini serta isi kandungannya, dan orang-orang yang mengamalkannya
yang memegang teguh syarat-syaratnya serta membenci hal-hal yang membatalkannya.
Allah berfirman:
"Dan di antara manusia ada yang mengambil tandingan selain Allah.
Mereka mencintai tandingan itu seperti mencintai Allah sedangkan orang-orang
yang beriman sangat kuat kecintaannya kepada Allah." (Q.S. Al-Baqarah
: 165)
Tanda-tanda seorang hamba mencintai Allah adalah lebih mendahulukan apa yang
dicintai oleh Allah sekalipun bertolak belakang dengan hawa nafsunya, dan
membenci apa-apa yang dibenci Allah sekalipun diinginkan oleh hawa nafsunya,
serta berkasih sayang dengan orang yang mencintai Allah serta memusuhi orang
yang memusuhi Allah, mengikuti Rasul-Nya Shalallahu 'Alaihi Wassalam, menyelusuri
jejak langkahnya dan menerima petunjuknya. Semua tanda ini merupakan syarat
mahabbah (cinta) dan tidak terbayang adanya mahabbah (cinta) tanpa adanya
syarat-syarat tadi.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam berkata:
"Ada tiga perkara. Siapa yang memiliki tiga perkara tadi maka dia
akan merasakan manisnya iman. Yaitu bila Allah dan Rasul-Nya Shalallahu 'Alaihi
Wassalam lebih dia cintai dari pada selainnya, dan dia mencintai seseorang
hanya karena Allah, serta membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkan dia darinya sebagaimana dia menbenci dilemparkan kepada neraka."
(Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas Bin Malik).
Sebagian ulama menambah syarat yang kedelapan, yaitu kufur kepada
apa-apa yang disembah selain Allah (kufur kepada thaghut).
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:
"Siapa yang mengatakan Laaillaaha Ilallaah dan dia kufur kepada apa-apa
yang disembah selain Allah maka haramlah harta dan darahnya serta hisabnya
terserah Allah Ta'ala ." (HR Muslim).
Maka terpeliharanya darah dan harta seseorang itu kalau perkataan Laaillaaha
Ilallaah nya disertai dengan sikap kufur kepada apa-apa yang disembah selain
Allah siapapun dia.