Alhamdulillah.
Pertama,
terdapat keutamaan yang agung beribadah pada malam Lailatul Qadar. Tuhan
kita Tabaraka wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa ia lebih baik dari
seribu bulan. Dan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan
bahwa barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) dalam kondisi beriman dan
penuh pengharapan, maka akan diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.
Allah
berfirman:
“Sesungguhnya
Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu
apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril
dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.”
(QS. Al-Qadar: 1-5)
Dari Abu Hurairah radhiallahu‘ahu dari Nabi
sallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
مَنْ قَامَ
لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ (رواه البخاري، رقم 1910، ومسلم، رقم 760 )
“Barangsiapa yang berdiri
(menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dalam keadaan beriman dan
berharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
(HR. Bukhari, no. 1910, Muslim, no. 760).
Beriman,
maksudnya mengimani keutamaan dan disyariatkannya beramal di dalamnya.
Berharap
(pahala), maksudnya adalah ikhlas dan berniat hanya untuk Allah Ta’ala
Kedua, para ulama berbeda pendapat tentang
penentuan malam Lailatul Qadar menjadi berbagai pendapat. Pendapat-pendapat
dalam masalah ini sampai lebih dari empat puluh pendapat, sebagaimana
dilansir dalam kitab Fathul Bari. Dan pendapat terdekat dari kebenaran
adalah bahwa malam tersebut terjadi pada malam ganjil di sepuluh malam
terakhir di bulan Ramadan.
Dari Aisyah
radhiallahu ‘anha sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي
الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري، رقم 2017
– واللفظ له – ومسلم، رقم 1169)
“Carilah
Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir di bulan
Ramadan.” (HR. Bukhari, no. 2017, redaksi berasal dari riwayat beliau, dan
Muslim, no. 1169)
Hadits tersebut
dikelompokkan oleh Bukhari dalam bab 'Mencari Lailatul Qadar pada malam
ganjil di sepuluh malam terakhir.'
Hikmah disembunyikannya adalah untuk
memberikan semangat kepada kaum muslimin untuk mengerahkan semangat dalam
beribadah, berdoa dan zikir pada sepuluh malam terakhir seluruhnya. Hikmah
ini sama seperti tidak ada penentuan waktu ijabah (dikabulkan doa) pada hari
Jum’aht, dan tidak ditentukannya nama-nama (Allah) sembilan puluh sembilan
yang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallalm sabdakan: “Barangsiapa yang
menghitungnya maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari, no. 2736 dan Muslim,
no. 2677)
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah
berkata: “Ungkapan Imam Bukhari- 'Bab mencari Lailatul Qadar di malam ganjil
pada sepuluh malam terakhir.' Keterangan ini memberikan isyarat kuatnya
(pendapat) bahwa Lailaul Qadar hanya terdapat di bulan Ramadan, kemudian
pada sepuluh malam terakhir, kemudian di malam-malam yang ganjil. Tidak
disebutkan malam tertentu. Pendapat ini yang ditunjukkan berbagai dalil
yang ada.” (Fathul Bari, 4/260)
Beliau juga berkata: “Para ulama berkata,
hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar adalah agar semangat dalam
pencariannya, lain kalau ditentukan pada malam tertentu, pasti akan fokus
pada malam itu saja. Seperti hal ini juga waktu ijabah pada hari
jum’at.” (Fathul Bari, 4/266)
Ketiga, kesimpulannya, tidak mungkin seorang
pun memastikan malam tertentu itu adalah Lailatul Qadar. Apalagi jika kita
ketahui bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya ingin
memberitahukan umatnya, namun kemudian beliau memberitahu bahwa Allah telah
mengangkat (melupakan) pengetahuan itu.
فعن عبادة
بن الصامت رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خَرَجَ يُخْبِرُ
بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، فَتَلاحَى رَجُلانِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ، فَقَالَ :
إِنِّي خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِنَّهُ تَلاحَى
فُلانٌ وَفُلانٌ فَرُفِعَتْ ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ ،
الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالْخَمْسِ
(رواه البخاري، رقم 49)
Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu
sesungguhnya Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk
memberitahukan Lailatul Qadar, dan ada dua orang dari umat Islam bertengkar.
Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya saya keluar untuk memberitahukan kepada
kamu semua Lailatul Qadar, dan sesungguhnya fulan dan fulan telah
bertengkar. Maka diangkat (pengetahuan tentang Lailatul Qadar). Semoga hal
itu untuk kebaikan kalian. Maka carilah (Lailatul Qadar) di malam tujuh,
sembilan dan lima (terakhir)." (HR. Bukhari, no. 49)
Para ulama di Al-Lajnah Ad-Daimah berkata:
“Adapun pengkhususan suatu malam di bulan Ramadan sebagai Lailatul Qadar.
Menentukan malam tertentu (sebagai Lailatul Qadar) bukan selainnya
membutuhkan dalil khusus. Akan tetapi malam-malam ganjil pada sepuluh malam
terakhir adalah yang lebih dekat dibandingkan dengan malam lainnya, dan
malam dua puluh tujuh lebih dekat lagi sebagai Lailatul Qadar. Sebagaimana
dalil yang ada menunjukkan seperti yang kami sebutkan." (Fatawa Al-Lajnah
Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta, 10/413)
Oleh karena itu tidak sepatutnya bagi seorang
muslim bersungguh-sungguh beribadah pada malam tertentu dengan keyakinan
bahwa dia Lailatul Qadar. Karena itu berarti memastikan yang belum pasti dan
dapat membuatnya tidak mendapatkan kebaikan bagi diri sendiri. Sebab bisa
jadi (Lailatul Qadar) datang pada malam dua puluh satu atau dua puluh tiga
dan bisa juga malam dua puluh sembilan. Kalau dia hanya menunaikan ibadah
pada malam dua puluh tujuh, maka dia akan kehilangan banyak kebaikan dan
tidak mendapatkan malam yang barokah itu. Maka bagi seorang muslim hendaklah
dia mencurahkan semangat dalam ketaatan dan beribadah di bulan Ramadan
semuanya dan lebih banyak lagi pada sepuluh malam terakhir. Inilah petunjuk
Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.
عن عائشة رضي الله عنها قالت : كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ
مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ . (رواه البخاري، رقم
2024 ومسلم، رقم 1174)
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia
berkata: “Biasanya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki
sepuluh (malam akhir) mengencangkan kainnya (semangat beribadah),
menghidupkan malamnya serta membangunkan keluarganya.”
(HR. Bukhari, no. 2024. Muslim, no. 1174)
Wallahu ‘alam.