Alhamdulillah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya seperti
pertanyaan tadi, maka beliau menjawab, ‘Persyaratan ini tidak mengikat
menurut mazhab Imam Syafi’i, dan mengikat menurut mazhab Abu Hanifah.
Apabila dia menikah lagi, maka jatuh talak. Apabila dia menggauli budak,
maka budaknya langsung bebas. Begitu juga pendapat mazhab Malik. Adapun
mazhab Ahmad, tidak jatuh talak, atau merdeka (dari budak). Akan tetapi
kalau dia menikah atau menggauli, maka urusannya berada di tangan wanita.
Kalau dia bersedia, tetap bersama suaminya, atau berpisah darinya.
Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alaihi wa
sallam, "Sesungguhnya syarat yang lebih berhak untuk ditunaikan adalah apa
yang menghalalkan pada kemaluan"
Juga ada riwayat seseorang menikahi wanita
dengan syarat agar tidak kawin lagi, maka masalah itu diadukan kepada Umar.
Lalu beliau berkata, "Hak-hak diputuskan sesuai persyaratan.”
Maka
pendapat dalam masalah ini ada tiga:
1. Jatuh
talak dan merdeka (jika dia budak)
2. Tidak
jatuh talak dan sang isteri tidak berhak menuntut pisah dari suaminya.
3. Pendapat
yang moderat, bahwa tidak jatuh talak maupun merdeka (budak), akan tetapi
bagi wanita tergantung apa yang dia syaratkan. Kalau bersedia, dia boleh
tetap bersama suaminya, atau boleh berpisah. Ini adalah pendapat pertengahan.