Al-Hamdulillah. Sesungguhnya manusia dengan fithrahnya di mana ia dilahirkan
akan dapat merasakan betapa tidak pantasnya perbuatan tersebut dan betapa
besarnya dosa perbuatan itu, serta betapa besar kejahatan yang terkandung
di dalamnya. Segala bentuk perbuatan syetan tersebut tidak akan pernah bisa
sejalan dengan fithrah yang sehat dan tauhid yang murni.
Kaum muslimin seluruhnya bersepakat tentang wajibnya menghormati firman Allah
dan memeliharanya dari segala cacat dan cela. Al-Qur'an adalah Kalamullah,
dan Al-qur'an merupakan salah satu sifat Allah. Allah tetap bisa berbicara
kapanpun Dia kehendaki. Demikianlah yang diindikasikan oleh Kitabullah dan
Sunnah Rasul serta ucapan para Imam Islam.
Menghina Kalamullah dan Kitab-Nya, atau segala ucapan yang menjatuhkan kehormatan
dan keagungannya adalah perbuatan kufur yang nyata, tak seorangpun yang mengingkari
hal itu. Allah berfirman:
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan
itu), tentu mereka akan menjawab:"Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau
dan bermain-main saja". Katakanlah:"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya
dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf,
karena kamu kafir sesudah beriman.." (QS. At-Taubah : 65-66)
Ayat ini merupakan dalil tegas tentang kafirnya orang yang memperolok-olok
Allah, ayat-ayat dan Rasul-Nya; baik ia menganggap halal perbuatan itu atau
tidak. Sekedar mengolok-olok hal tersebut di atas sudah merupakan perbuatan
murtad dari Islam berdasarkan ijma' kaum muslimin, meskipun tidak bermaksud
memperolok-olok sungguhan, hanya bercanda atau bermain-main saja.
Orang-orang yang mengatakan kepada Nabi dan para Sahabat beliau:
"Belum pernah kami melihat seperti para qari kita ini yang lebih suka
makan, lebih pendusta dan pengecut ketika bertemu musuh dari mereka,"
dengan ucapan itu mereka telah menjadi kafir. Ibnu Jarir meriwayatkan dalam
tafsirnya (X : 172) dengan sanad yang baik dari jalur riwayat Hisyam bin Saad,
dari Zaid bin Aslam, dari Abdullah bin Umar diriwayatkan bahwa ia menceritakan:
ada seorang lelaki yang berkata pada peperangan Tabuk dalam satu majelis:
"Belum pernah kami melihat seperti para qari kita ini yang lebih suka
makan, lebih pendusta dan pengecut ketika bertemu musuh dari mereka."
Salah seorang dalam majelis itu langsung menyela: "Kamu bohong. Kamu
memang munafik. Pasti akan kukabarkan ucapanmu itu kepada Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam".
Kabar itupun sampai kepada Nabi, dan turunlah Al-Qur'an. Abdullah bin Umar
langsung berkata: "Saya melihat sendiri orang itu bergayutan di unta
Rasulullah setelah ditimpuki batu sambil berkata: "Wahai Rasulullah!
Sebenarnya kami cuma iseng-iseng mengobrol dan bermain-main saja." Sementara
Rasulullah terus mengulang-ulang sabda beliau: "Apakah kalian memperolok-olok
Allah dan ayat-ayat-Nya? Jangan beralasan, sungguh kalian telah kafir setelah
sebelumnya kalian beriman.."
Secara zhahirnya ayat itu menegaskan bahwa sebelumnya orang-orang ia adalah
mukmin. Namun mereka menjadi kafir karena memperolok-olok orang-orang yang
sudah mereka ketahui kemuliaannya; namun mereka menganggap bahwa perbuatan
itu tidaklah kafir. Demikian juga orang-orang yang membuka persembahan lagu
mereka dengan menyanyikan ayat-ayat Al-Qur'an di Pentas Musik Tradisional.
Mereka telah memperolok-olok ayat-ayat Al-Qur'an yang mulia untuk dipadukan
dengan lagu, nyanyian dan permainan. Itu bahkan tergolong bentuk pelecehan
terbesar terhadap Al-Qur'an, merendahkan kehormatannya.
Umat Islam telah bersepakat tentang kafirnya orang yang melecehkan atau menghina
Al-Qur'an dan kehormatannya. Firman Allah:
"sesungguhnya al-Qur'an itu benar-benar firman yang memisahkan antara
yang hak dan yang bathil, dan sekali-kali bukanlah dia sendau gurau
"
(QS. Ath-Thaariq : 13-14)
Setiap orang yang menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an untuk bersenda-gurau, menyanyi,
menari dan bermain musik, berarti ia telah menjadikan Al-Qur'an sebagai permainan
dan bahan olok-olok. Allah mengancam orang-orang semacam itu dengan adzab
yang menghinakan:
"Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami,
maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang
menghinakan." (QS. Al-Jaatsiyyah : 9)
Juga firman Allah:
"Dan dikatakan (kepada mereka): "Pada hari ini Kami melupakan
kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat
kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. (Yang
demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai
olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini
mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan
untuk bertaubat." (QS. Al-Jaatsiyyah : 34-35)
Al-Qadhi Iyyadh dalam Syarah Asy-Syifa (II : 549) menegaskan: "Ketahuilah,
bahwa orang yang melecehkan Al-Qur'an atau melecehkan mush-haf terhadap sebagian
isinya, atau mencelanya, atau mengingkari meskipun satu huruf atau satu ayat
saja, atau mendustakan sebagian isinya, atau mendustakan hukum yang terdapat
didalamnya, atau menolak ketetapannya padahal ia tahu, atau ragu terhadap
sebagian kandungannya, maka orang itu kafir menurut kesepakatan para ulama.
Allah berfirman:
"dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak
datang kepadanya (al-Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya,
yang diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji."
(QS. Fush-shilat : 41-42)
Syaikh Al-Allamah Abu Bakar Muhammad Al-Husaini Al-Humashi Asy-Syafi'ie pernah
menyatakan dalam bukunya Kifayatul Akhyaar (494): "Adapun kekufuran dengan
perbuatan seperti sujud kepada berhala, matahari dan bulan; mencampakkan mush-haf
di tong-tong sampah, atau sihir yang juga diikuti dengan menyembah matahari,
demikian juga menyembelih hewan untuk berhala, melecehkan salah satu nama
Allah, perintah atau larangan-Nya, atau membaca Al-Qur'an sambil menabuh rebana.
Dan membaca Al-Qur'an sambil menyanyi atau diiringi dengan musik itu lebih
kufur dan lebih besar dosanya daripada membaca Al-Qur'an dengan menabuh rebana.
Al-Allamah Syaikh Al-Bahuti Al-Hambali -Rahimahullah-- menyatakan dalam kitabnya
Ar-Raudhul Murabba' Syarah Zadil Mustaqni' hal 682 menyatakan di bawah judul:
"Hukum Murtad,": "..atau ia mengucapkan atau melakukan perbuatan
yang secara jelas memperolok-olok agama, atau melecehkan Al-Qur'an atau merendahkan
martabatnya.."
Al-Allamah Ibnu Farhun Al-Maliki -Rahimahullah-- dalam bukunya "Tabshiratul
Hukkam" (II 214) menyatakan: "Dan barangsiapa yang melecehkan Al-Qur'an,
atau sebagian dari ayat-ayatnya, atau mengingkari satu hurufpun darinya, atau
mendustakan sebagian isinya, atau menetapkan yang dinafikan (ditolak) Al-Qur'an,
atau menafikan (menolak) yang ditetapkan Al-Qur'an dalam keadaan mengetahui,
atau meragukan sebagian kandungannya, maka ia telah kafir menurut kesepakatan
para ulama."
Orang yang ridha terhadap perbuatan kufur mereka dan pelecehan mereka terhadap
Kalamullah dan Kitab-Nya itupun ikut kafir bersama mereka. Allah berfirman:
"Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur'an
bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan
(oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga
mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat
demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan
orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam seluruhnya.."
(QS. An-Nisaa : 140)
Waspadailah dua persoalan besar:
Pertama: Siksa Allah terhadap orang yang melecehkan atau menghina Kalamullah.
Diriwayatkan dalam Shahihul Bukhari (3617) melalui jalur Abdul Warits Abdul
Aziz bin Anas Radhiallahu 'anhu bahwa ia menceritakan: Ada seorang
lelaki Nashrani yang masuk Islam. Ia membaca surat Al-Baqarah dan Ali Imran.
Ia biasa menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an untuk Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Tiba-tiba ia kembali ke agama Nashrani. Ia sering berujar:
"Muhammad itu hanya tahu yang aku tuliskan untuknya saja." Maka
Allah pun mencabut nyawanya. Setelah tubuhnya dikebumikan, paginya ia kembali
dimuntahkan oleh bumi. Orang-orang langsung berkomentar: "Ini pasti perbuatan
Muhammad dan para sahabatnya itu. Karena ia lari darinya, sudah matipun kuburannya
dibongkar dan tubuhnya dilemparkan keluar." Maka merekapun menggali sedalam-salamnya.
Namun di pagi harinya, kembali ia dimuntahkan keluar oleh bumi. Mereka kembali
berkomentar: "Ini pasti perbuatan Muhammad dan para sahabatnya itu. Karena
ia lari darinya, sudah matipun kuburannya dibongkar dan tubuhnya dilemparkan
keluar." Merekapun kembali menggali tanah dengan sedalam-dalamnya yang
mereka bisa. Namun di pagi harinya, kembali bangkai orang itu dimuntahkan
oleh bumi. Akhirnya merekapun sadar bahwa itu bukanlah perbuatan manusia.
Bangkai lelaki itupun mereka campakkan begitu saja. (HR. Muslim dalam Shahih-nya
[2781] melalui jalur riwayat Sulaiman bin Al-Mughirah, dari Tsabit Al-Bannani,
dari Anas bahwa ia menceritakan: "Di antara kami ada seorang lelaki dari
Bani Najjar
dst." Di akhir kisah disebutkan, bahwa akhirnya mereka
meninggalkan begitu saja mayat itu tergeletak.
Yang kedua: Terlaksananya perbuatan nista tersebut tanpa adanya hukuman.
Padahal Al-Qur'an adalah Kalamullah yang memiliki kedudukan dan kehormatan
tinggi dalam hati kaum muslimin. Melecehkan dan menghina kehormatannya adalah
perbuatan kriminal berat dan dosa yang amat besar.
Ketika datang orang-orang berjiwa rendah pada abad ke dua puluh ini yang melecehkan
Kalamullah dan sifat-sifat-Nya, lalu menjadikannya tak ubahnya seperti ucapan
atau omongan manusia, bahkan menjadikannya sebagai nyanyian dan lagi, sebagai
permainan yang diiringi musik, sementara mereka tidak mendapatkan hukuman,
tidak dilarang atau tidak terkena undang-undang hukum Allah terhadap mereka,
hal itu akan membuka pintu permainan terhadap syariat Allah dan kecaman terhadap
Dzah Ilahiyyah serta sifat-sifat-Nya, bahkan menjadi pelecehan terhadap hal
yang paling dimuliakan oleh kaum muslimin.
Kalau hukuman dunia berupa penjara dan sejenisnya diberlakukan terhadap orang
yang mendiskreditkan penguasa atau pemimpin dalam membela kebenaran atau sebaliknya,
namun tidak diterapkan terhadap orang yang melecehkan Kitab dari Rabbul 'alamien
atau melecehkan sifat-sifat Allah, maka jelas itu merupakan perbuatan haram
terbesar dan dosa yang paling berat.
Saya khawatir terhadap satu kemungkinan dari orang-orang yang melecehkan ayat-ayat
Allah itu dengan kondisi pemerintahan seperti sekarang ini akan sampai pada
tarap yang diungkapkan seorang penyair:
Orang yang mengecam penguasa harus digiring ke penjara,
namun untuk mengecam Allah semua orang tampak merdeka.
Oleh sebab itu, janganlah cepat bergembira dengan kehidupan di bawah naungan
kerusakan, di bawah melencengnya berbagai urusan dari takarannya.
Syaikh Sulaiman Nashir Al-Ulwaan.