Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata 'seandainya'
itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau
dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman
Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan
kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka
bumi atau mereka berperang:"Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah
mereka tidak mati dan tidak dibunuh". Akibat (dari perkataan dan keyakinan
mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di
dalam di hati mereka.." (Ali Imraan : 156)
Itulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:
"Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: "Kalau
tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..". Tapi
katakanlah: "Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki.
Karena kata "seandainya," itu membuka pintu amalan syetan (yakni
akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya
dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak
akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu.
Allah berfirman:
"Tidak ada sesuatu musibahpun yang
menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman
kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.." (At-Taghaabun
: 11)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud
dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari
bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.
Yang kedua, penggunaan kata "seandainya,"
untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:
"Sekiranya ada di langit dan di bumi
ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa.."
(Al-Anbiya : 22)
Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap
perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:"Kalau saja
aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang
dia lakukan.." dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja.
Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kalaulah beliau mau
bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka.."
Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:
"Maka mereka menginginkan supaya kamu
bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu.." (Al-Qalam
: 3)
Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan
dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang
seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada
dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan
beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir..Wallahu
A'lam.